Bearded vulture, hering berjanggut pemakan tulang yang unik di pegunungan dunia

Gambar
PR JATENG -  Di antara deretan burung pemangsa di dunia, Bearded Vulture atau Hering berjanggut menjadi salah satu yang paling unik. Burung besar ini justru dikenal lebih menyukai tulang dibandingkan daging segar, sebuah kebiasaan yang jarang dimiliki satwa lain. Penampakan Bearded Vulture kerap mencuri perhatian. Tubuh bagian atasnya didominasi warna gelap, sementara dada hingga kepala berwarna lebih terang. Ciri khas lainnya adalah jumbai bulu menyerupai janggut di bawah paruh, yang membuatnya tampak gagah sekaligus eksotis. Burung ini hidup di kawasan pegunungan Eropa, Asia, hingga Afrika. Dengan bentang sayap yang bisa mencapai hampir tiga meter, Bearded Vulture mampu melayang lama mengikuti arus udara di wilayah pegunungan terjal. Dalam unggahan video akun Facebook Porco Project, diperlihatkan bagaimana burung ini beraktivitas di alam liar. “Bearded Vulture adalah burung yang lebih suka memakan tulang daripada daging,” tulis Porco Project dalam keterangan videonya. Ber...

Metamorfosis Sampah Plastik Karya Seniman ISI Yogyakarta

Seniman Perempuan yang Mengubah Sampah Plastik Menjadi Karya Seni

Di tangan dua seniman jebolan ISI Yogyakarta, sampah plastik bisa bertransformasi menjadi material seni. Proyek ini bermula dari keinginan Ayu (46) dan Mutia (30) untuk membuat suatu karya 3D yang tidak memakan banyak biaya.

Tahun 2016 proyek ini dimulai saat Mutia masih menuntut pendidikan di ISI Yogyakarta jurusan Seni Rupa. Sementara Ayu yang juga jebolan ISI Yogyakarta jurusan Seni Lukis sudah lebih dulu memulai kiprahnya sebagai seniman.

“Tercetusnya ini pertama kali sebenarnya dari Mba Ayu, beliau itu pengen bikin karya seni yang ga melulu di lukisan atau 2 dimensi,” tutur Mutia saat diwawancarai Tribun Jogja.

Namun, Mutia berprinsip agar biaya proyek pribadi bersama Ayu ini tidak lebih besar dari budget untuk keperluan kuliahnya saat itu. Melalui proses brainstorming yang cukup panjang mereka akhirnya bereksperimen pakai kumpulan plastik bekas.

“Tidak naif, waktu itu melihat plastik-plastik bekas kok warnanya lucu-lucu ya, sesederhana itu dan belum ada embel-embel lingkungan,” cerita Mutia tentang awal dari ide ini.

Ia juga menuturkan bahwa penggunaan plastik ini memungkinkan TacTic mencapai kondisi zero waste dengan modal yang minim. Mutia bercerita bahwa tiga tahun awal grup ini berdiri, mereka fokus untuk mengeksplorasi material plastik tersebut.

Seiring dengan berkembangnya komunitas dan kolaborasi proyek yang digarap, Mutia mengaku perlu untuk mempelajari isu-isu yang terkait dengan plastik dan sampah. “Kami yang terlibat di TacTic ini juga jadinya harus dibekali ilmu tentang material yang dipakai dan sedikit-sedikit juga (ilmu) tentang sampah.”

Mereka mulai terbuka dengan isu ekologi dan keprihatinannya semakin dalam saat mempelajari bahwa limbah plastik itu penyebab rusaknya ekologi di darat maupun dilaut.

Bergabungnya Lily Elserisa pada tahun 2019 mengajak TacTic untuk menegaskan kembali posisi komunitas ini. "Ini arahnya mau kemana, material kita udah pakai sampah plastik dan kita juga perempuan semua," ucap Mutia menirukan ajakan Lily.

Semenjak itu, TacTic Plastic yang berbasis di Bantul, DIY ini mulai menegaskan keberadaannya sebagai kelompok seniman perempuan yang fokus mengangkat isu ekologi sekaligus eko-feminisme lewat karya mereka.

Menggerakan Ekonomi Sirkular

Untuk kebutuhan material dalam jumlah besar, TacTic seringkali mendapat bahan dari salah satu bank sampah di daerah Kotagede, Yogyakarta. “Yang masuk ke kami berupa lembaran plastik yang sudah di press, dan selanjutnya kami tinggal eksekusi bentuk karyanya,” tutur Mutia.

Ia menjelaskan bahwa para pengelola di bank sampah tersebut sangat antusias sebab lewat kerjasama seperti ini, pemanfaatan limbah jadi benar-benar memberi penghasilan. “Kalau kami belinya material mentah (plastik belum di press) itu dihargai sekitar 300 perak per-kilogramnya, sementara kalau sudah dipress itu bisa dihargai enam kali lipat.”

Menurut Mutia, melalui kerjasama dengan komunitas grassroot ini diharapkan dapat memberi pemasukan setidaknya untuk kas dan modal untuk kegiatan komunitas tersebut.

TacTic Plastic lewat aktivitas Play with Waste juga aktif untuk memberi pelatihan sekaligus edukasi tentang pemanfaatan limbah plastik kresek. Hal yang diamati Mutia dan kawan-kawan TacTic yaitu, kerap kali daur ulang plastik bekas di bank sampah maupun sekolah-sekolah sebatas membuat kerajinan hiasan seperti bunga-bunga plastik yang sulit untuk dijual kembali.

Padahal, menurut Mutia, sampah plastik kresek yang ada disekitar itu bisa bernilai jauh lebih tinggi, jika tahu cara mendaur ulangnya.

Fokus dari pelatihan yang TacTic adakan yaitu mengajarkan cara sederhana daur ulang limbah plastik kresek untuk menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi, seperti buku jurnal gantungan kunci, dan upcycle karya 2D. “Paling banyak mendaftar itu workshop bikin buku Jurnal” ucap Mutia.

Ia juga menambahkan bahwa banyak peserta workshop yang akhirnya membuat ulang buku jurnal untuk diperjual belikan. Mutia mengaku tidak memberi batasan seperti harus melapor soal ide yang dipakai kembali.

TacTic Plastic tidak menganggap para individu yang memakai ide mereka dan memperjual-belikan hasilnya sebagai kompetitor, melainkan kolaborator. “Jadi kami semacam bentuk community based yang tujuannya untuk edukasi dan menggerakan lebih banyak orang saja.”

Justru, menurut Mutia, semakin banyak orang yang bisa mendaur ulang sampah plastik bahkan menjadikannya sebagai sumber pendapatan adalah hal yang baik dan sejalan dengan misi TacTic Plastic.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025