Rumah Mertua Insanul Fahmi di Medan Terendam Banjir, Wardatina Curhat Pilu Lihat Foto Pernikahan

Gambar
Banjir yang terjadi di Medan, Sumatera Utara pada hari Kamis (21/11/2025) menimpa banyak warga. Salah satu korban banjir adalah Wardatina Mawa, yang mengungkapkan rasa pilu akibat musibah yang menimpanya. Hujan deras yang terus-menerus mengguyur Kota Medan sejak Rabu (26/11/2025) malam hingga Kamis (27/11/2025) pagi menyebabkan meluapnya beberapa sungai. Akibatnya, ribuan rumah terendam air dan memaksa warga untuk mencari tempat aman di ketinggian. Wardatina Mawa kini menjadi sorotan setelah melaporkan Inara Rusli ke polisi karena dugaan perselingkuhan dan perzinaan dengan suaminya, Insanul Fahmi. Ia bahkan membawa bukti rekaman CCTV untuk mendukung laporan tersebut. Melalui akun media sosialnya, Wardatina Mawa berbagi pengalaman pribadinya di tengah skandal yang sedang ia hadapi. Di tengah masalah perselingkuhan suaminya, ia justru menghadapi bencana banjir yang membuat hidupnya semakin sulit. Dari akun Instagram @wardatinamawa, terlihat bahwa istri dari Insanul Fahmi ini ju...

Percakapan Hangat Ceu Popong dan Teh Aanya: Dinamika Wewenang Senator Indonesia

Percakapan Hangat Ceu Popong dan Teh Aanya: Dinamika Wewenang Senator Indonesia

Perjumpaan Dua Generasi Perempuan Politisi di Bandung

Rintik hujan yang menetes pelan di Jalan Cipaganti sore itu menjadi saksi dari pertemuan bersejarah dua generasi perempuan politisi asal Jawa Barat. Anggota Komite I DPD RI, Aanya Rina Casmayanti, menyambangi kediaman tokoh senior yang dikenal luas di dunia politik, Popong Otje Djundjunan. Dalam suasana hangat dan penuh makna, keduanya berbincang panjang mengenai regenerasi kepemimpinan serta arah masa depan demokrasi Indonesia.

Pertemuan pada Jumat sore tersebut tidak sekadar kunjungan silaturahmi biasa, melainkan momen sarat nilai-nilai perjuangan dan kebijaksanaan. Ceu Popong, begitu sapaan akrab sang politisi senior, menerima Teh Aanya dengan senyum yang tulus. Di ruang tamu yang penuh jejak perjalanan intelektualnya, dialog mendalam antara dua generasi pun mengalir, menghadirkan refleksi dan inspirasi.

Dengan gaya bicaranya yang khas dan penuh ketajaman, Ceu Popong menyingkap persoalan sistem politik tanah air dengan analisis yang menggugah. “Di Indonesia lain dari yang lain. DPD kalau di negara lain adalah Senator. Senator di negara lain jauh lebih berkuasa,” tuturnya, menyoroti ketimpangan struktur ketatanegaraan yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Perempuan yang pernah duduk di kursi DPR RI itu menuturkan secara lugas mengenai asimetri kewenangan antara DPD dan DPR. “Lucunya, last decision maker DPR,” ungkapnya sembari mengulas bagaimana proses legislasi sering kali menempatkan DPD dalam posisi lemah. Dari pengalamannya, tak sedikit Rancangan Undang-Undang yang diinisiasi DPD akhirnya terhenti tanpa hasil konkret.

Dalam dialog yang sarat refleksi itu, Ceu Popong menekankan urgensi memperkuat kewenangan lembaga DPD agar tak sekadar simbol. “Kesannya puraga tamba kadenda, cuma syarat saja,” ujarnya dengan nada kritik yang tajam namun konstruktif. Ia bahkan mengaku pernah memiliki keinginan maju sebagai anggota DPD, namun memilih mundur setelah memahami terbatasnya ruang gerak lembaga tersebut.

Sesi pertemuan itu pun berkembang menjadi ajang transfer ilmu dan pengalaman yang bernilai tinggi. Ceu Popong tak hanya berbagi cerita, tetapi juga membukakan pintu pada khazanah literasinya. “Nanti boleh buku-buku ini dipinjam. Politisi harus membaca,” katanya sambil menunjuk beberapa koleksi karyanya, di antaranya “Menjalani Fungsi Representasi Secara Adaptif Melintas Perubahan Zaman” serta kumpulan tulisan reflektif miliknya yang telah dibukukan.

Ceu Popong juga membagikan kisah uniknya saat kehilangan palu sidang dalam rapat paripurna DPR untuk menetapkan pimpinan periode 2014–2019. Cerita sederhana itu bahkan sampai terdengar oleh anaknya yang kala itu menjabat Wakil Dubes di Thailand. Kisah tersebut menjadi gambaran betapa cepatnya perkembangan teknologi turut memengaruhi ruang komunikasi politik masa kini.

Di penghujung pertemuan, Ceu Popong menyampaikan pesan mendalam yang mengandung filosofi perjuangan. “Keterbatasan wewenang jangan jadi alasan mengatakan tidak mampu jika ada masyarakat yang minta aspirasinya diperjuangkan,” ucapnya, menegaskan tanggung jawab moral yang seharusnya diemban setiap wakil rakyat. Mendengar wejangan itu, Teh Aanya tampak terharu. “Beliau adalah guru saya, orang tua saya dan idola saya. Beliau tak pernah pelit ilmu,” katanya penuh penghormatan, menggambarkan kedekatan personal sekaligus rasa hormatnya terhadap sosok panutan yang telah membuka jalan bagi banyak perempuan di dunia politik.

Pertemuan dua generasi politisi perempuan ini menjadi simbol regenerasi yang sesungguhnya, bukan sekadar pergantian tongkat estafet, melainkan proses pewarisan nilai, gagasan, dan semangat membangun bangsa. Ceu Popong berulang kali menekankan pentingnya konsistensi, kemampuan menulis, serta literasi politik yang kuat sebagai modal untuk memperkuat tatanan demokrasi yang sehat.

Dalam atmosfer Bandung yang diselimuti gerimis sore, dua sosok perempuan tangguh itu seolah merajut kembali benang-benang perjuangan yang menyatukan masa lalu dan masa depan politik Indonesia. Di antara percakapan dan tawa ringan mereka, terselip tekad untuk terus menjaga bara semangat demokrasi agar tetap menyala, bahkan di tengah derasnya perubahan zaman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama