Rumah Mertua Insanul Fahmi di Medan Terendam Banjir, Wardatina Curhat Pilu Lihat Foto Pernikahan

Gambar
Banjir yang terjadi di Medan, Sumatera Utara pada hari Kamis (21/11/2025) menimpa banyak warga. Salah satu korban banjir adalah Wardatina Mawa, yang mengungkapkan rasa pilu akibat musibah yang menimpanya. Hujan deras yang terus-menerus mengguyur Kota Medan sejak Rabu (26/11/2025) malam hingga Kamis (27/11/2025) pagi menyebabkan meluapnya beberapa sungai. Akibatnya, ribuan rumah terendam air dan memaksa warga untuk mencari tempat aman di ketinggian. Wardatina Mawa kini menjadi sorotan setelah melaporkan Inara Rusli ke polisi karena dugaan perselingkuhan dan perzinaan dengan suaminya, Insanul Fahmi. Ia bahkan membawa bukti rekaman CCTV untuk mendukung laporan tersebut. Melalui akun media sosialnya, Wardatina Mawa berbagi pengalaman pribadinya di tengah skandal yang sedang ia hadapi. Di tengah masalah perselingkuhan suaminya, ia justru menghadapi bencana banjir yang membuat hidupnya semakin sulit. Dari akun Instagram @wardatinamawa, terlihat bahwa istri dari Insanul Fahmi ini ju...

Reputasi Tak Datang dari Kata-Katamu

Reputasi Tidak Dibangun dari Mulut

Reputasi seseorang tidak dibentuk oleh kata-kata yang diucapkan, melainkan oleh tindakan nyata, perilaku, dan konsistensi dalam jangka waktu yang panjang. Banyak orang salah paham dengan mengira bahwa reputasi bisa dibangun hanya dengan banyak bicara atau menyingkirkan orang lain. Padahal, hal tersebut justru bertentangan dengan prinsip dasar pembentukan reputasi.

Orang yang sering berbicara tanpa arah atau terlalu arogan justru cenderung tidak dihormati. Sebaliknya, mereka yang sedikit bicara tapi tindakannya bermakna seringkali lebih disegani. Reputasi lahir dari kinerja, bukan retorika. Kita tidak perlu mengklaim diri kita baik jika tidak pernah melakukan tindakan baik. Reputasi adalah hasil dari apa yang kita lakukan, bukan apa yang kita katakan.

Penelitian Psikologi Sosial

Sebuah penelitian psikologi sosial di University of California menunjukkan bahwa individu yang mampu menjaga ketenangan dan berbicara seperlunya dianggap lebih kompeten dan dapat dipercaya dibanding mereka yang terlalu sering berbicara tanpa arah. Diam bisa menjadi bahasa yang lebih kuat daripada ribuan kata yang penuh subjektivitas dan arogansi. Di kehidupan sehari-hari, kita sering melihat fenomena ini. Misalnya, ada orang yang selalu berpendapat di setiap rapat, tetapi justru tidak pernah benar-benar didengar karena pendekatannya terlalu subjektif dan gayanya terlampau arogan.

Di sisi lain, ada sosok yang hanya berbicara sedikit, namun memiliki sikap tegas. Setiap kalimatnya membuat orang lain berhenti dan berpikir. Orang seperti ini tidak perlu banyak bicara untuk didengar, karena ketenangan dan karakternya sudah berbicara lebih keras.

Reputasi dari Kinerja dan Konsistensi

Reputasi tidak lahir dari kata-kata. Ketenangan adalah bahasa paling kuat dari reputasi dan kepercayaan diri. Orang yang tenang dan bersikap tegas menunjukkan bahwa dirinya tidak perlu membuktikan apapun. Dalam situasi ditekan sekalipun, ketenangan adalah tanda seseorang telah menguasai dirinya sendiri. Ketika kita mampu tetap stabil di tengah arogansi kekuasaan, orang lain melihat kita sebagai sosok yang berwibawa.

Saat orang banyak sibuk bergunjing atas nama rapat dan diskusi, sementara kita tetap kalem dan berbicara dengan nada datar namun tegas, saat itu kita sedang memegang kendali. Begitulah reputasi bekerja.

Reputasi adalah Kebenaran

Reputasi adalah kebenaran. Maka orang yang benar tidak perlu membenarkan dirinya setiap saat. Justru, orang yang selalu sibuk menjelaskan dirinya justru terlihat tidak yakin dengan pendiriannya. Orang yang benar tahu bahwa waktu dan tindakan akan membuktikan segalanya.

Bicaralah seperlunya, karena yang penting bukan seberapa banyak kata, tapi seberapa tepat pesan yang sampai. Ketika kita dikritik atau disalahpahami, tidak semua situasi perlu direspons panjang lebar. Kadang, cukup dengan diam yang elegan dan hindari orang tersebut atau organisasinya. Sebab, orang yang paham bahwa kebenaran tidak butuh pembelaan di mana pun.

Reputasi Terbentuk dari Integritas

Reputasimu tidak dibangun dari mulutmu. Sebab reputasi seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia katakan tentang dirinya sendiri, atau oleh omongan semata, melainkan oleh tindakan nyata, perilaku, dan konsistensi dalam jangka waktu panjang. Tidak akan pernah ada "orang yang baru kemarin" nongol lalu punya reputasi. Dia hanya punya kuasa bukan kinerja. Bahkan caranya mencapai kekuasaan pun bisa dipahami orang banyak. Arogan, subjektif, bahkan kotor.

Jadi pesan pentingnya, "Bangun reputasi lewat perbuatan, bukan sekadar ucapan". Dan sejatinya, reputasi siapa pun sejatinya lahir dan tumbuh dari integritas, bukan dari banyak bicara dan subjektivitas. Reputasi lahir dari kesesuaian ucapan dan tindakan, bukan dari omongan ke omongan. Ketika tindakanmu berbicara, kata-katamu menjadi sekadar pelengkap.

Reputasi hanya mengingatkan, diammu harus punya makna dan bicaramu harus punya arah. Salam literasi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama