Bearded vulture, hering berjanggut pemakan tulang yang unik di pegunungan dunia

Gambar
PR JATENG -  Di antara deretan burung pemangsa di dunia, Bearded Vulture atau Hering berjanggut menjadi salah satu yang paling unik. Burung besar ini justru dikenal lebih menyukai tulang dibandingkan daging segar, sebuah kebiasaan yang jarang dimiliki satwa lain. Penampakan Bearded Vulture kerap mencuri perhatian. Tubuh bagian atasnya didominasi warna gelap, sementara dada hingga kepala berwarna lebih terang. Ciri khas lainnya adalah jumbai bulu menyerupai janggut di bawah paruh, yang membuatnya tampak gagah sekaligus eksotis. Burung ini hidup di kawasan pegunungan Eropa, Asia, hingga Afrika. Dengan bentang sayap yang bisa mencapai hampir tiga meter, Bearded Vulture mampu melayang lama mengikuti arus udara di wilayah pegunungan terjal. Dalam unggahan video akun Facebook Porco Project, diperlihatkan bagaimana burung ini beraktivitas di alam liar. “Bearded Vulture adalah burung yang lebih suka memakan tulang daripada daging,” tulis Porco Project dalam keterangan videonya. Ber...

Jawab tantangan kesehatan tulang belakang, National Hospital hadirkan Spine Center

jatim.bundayuniblog.blogspot.com, SURABAYA - Memperingati usia ke-13 tahun, Rumah Sakit National Hospital Surabaya meluncurkan Spine Center, pusat layanan terpadu untuk penanganan gangguan tulang belakang dengan teknologi modern dan pendekatan minimal invasif, Jumat (12/12).

Kehadiran pusat layanan ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan perawatan tulang belakang yang aman, presisi, dan berorientasi pada pemulihan cepat.

Koordinator Spine Center National Hospital dr Larona Hydravianto, SpOT (K) Spine menyebut seluruh layanan tulang belakang kini dapat diakses dalam satu sistem yang terintegrasi.

Pasien tidak hanya mendapatkan pemeriksaan menyeluruh, tetapi juga penanganan berbasis teknologi mutakhir yang mengikuti standar terkini dunia medis.

Menurutnya, pendekatan minimal invasif menjadi keunggulan utama Spine Center. Teknik ini memungkinkan operasi dilakukan dengan sayatan sangat kecil, sekitar 7–8 milimeter, menggunakan bantuan kamera dan monitor beresolusi tinggi.

Hasilnya, risiko perdarahan dapat ditekan, nyeri pascaoperasi lebih ringan, dan waktu pemulihan menjadi jauh lebih singkat.

“Dengan metode ini, pasien tidak perlu menjalani masa pemulihan panjang. Bahkan, sebagian pasien sudah bisa pulang dua hari setelah operasi dan kembali beraktivitas secara bertahap,” ujar dr Larona.

Berbeda dengan bedah konvensional yang membutuhkan sayatan besar dan masa rawat inap lebih lama, teknik minimal invasif memungkinkan pasien terhindar dari bedrest berkepanjangan.

Nyeri pascaoperasi yang biasanya berlangsung berhari-hari pun dapat diminimalkan.

Spine Center National Hospital menangani berbagai kondisi tulang belakang, mulai dari saraf terjepit, gangguan degeneratif, hingga kelainan bentuk seperti skoliosis.

Tindakan yang dilakukan meliputi dekompresi saraf, stabilisasi, serta koreksi dan rekonstruksi tulang belakang sesuai tingkat keparahan kasus.

Dari sisi efisiensi, durasi operasi berkisar antara 3 hingga 5 jam, dengan masa rawat inap rata-rata sekitar lima hari atau bahkan lebih singkat untuk kasus tertentu.

“Seluruh tindakan ditangani oleh tim dokter spesialis tulang belakang yang berpengalaman dan terus mengikuti perkembangan teknik medis global,” jelasnya.

Peluncuran Spine Center menjadi tonggak penting bagi National Hospital dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, khususnya di bidang tulang belakang yang semakin banyak dibutuhkan seiring gaya hidup modern dan faktor usia.

Dengan dukungan fasilitas, teknologi, dan sumber daya manusia yang mumpuni, Spine Center diharapkan menjadi rujukan utama layanan tulang belakang di Surabaya dan sekitarnya. (mcr23/jpnn)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025