Bearded vulture, hering berjanggut pemakan tulang yang unik di pegunungan dunia

Gambar
PR JATENG -  Di antara deretan burung pemangsa di dunia, Bearded Vulture atau Hering berjanggut menjadi salah satu yang paling unik. Burung besar ini justru dikenal lebih menyukai tulang dibandingkan daging segar, sebuah kebiasaan yang jarang dimiliki satwa lain. Penampakan Bearded Vulture kerap mencuri perhatian. Tubuh bagian atasnya didominasi warna gelap, sementara dada hingga kepala berwarna lebih terang. Ciri khas lainnya adalah jumbai bulu menyerupai janggut di bawah paruh, yang membuatnya tampak gagah sekaligus eksotis. Burung ini hidup di kawasan pegunungan Eropa, Asia, hingga Afrika. Dengan bentang sayap yang bisa mencapai hampir tiga meter, Bearded Vulture mampu melayang lama mengikuti arus udara di wilayah pegunungan terjal. Dalam unggahan video akun Facebook Porco Project, diperlihatkan bagaimana burung ini beraktivitas di alam liar. “Bearded Vulture adalah burung yang lebih suka memakan tulang daripada daging,” tulis Porco Project dalam keterangan videonya. Ber...

Nvidia Suntik Dana Rp30 Triliun ke Synopsys: Kolaborasi Raksasa untuk Otomasi Desain Chip dengan AI

Nvidia Suntik Dana Rp30 Triliun ke Synopsys: Kolaborasi Raksasa untuk Otomasi Desain Chip dengan AIbundayuniblog.blogspot.com Pada 1 Desember waktu setempat, Nvidia mengumumkan langkah investasi strategis senilai sekitar $2 miliar (sekitar Rp30,5 triliun) di Synopsys, perusahaan perangkat lunak desain semikonduktor terkemuka.

Berdasarkan perjanjian, Nvidia akan mengakuisisi saham biasa Synopsys dengan harga $414,79 per saham, memberikannya kepemilikan ekuitas sekitar 2,6%.

Synopsys dikenal sebagai penyedia inti perangkat lunak Electronic Design Automation (EDA), sebuah perangkat lunak krusial untuk desain dan manufaktur chip. Perangkat lunak mereka mendukung desain otomatis penempatan transistor dan sirkuit, serta verifikasi desain.

Dalam beberapa tahun terakhir, Synopsys fokus memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan komputasi terakselerasi untuk memodernisasi solusi desainnya.

CEO dan salah satu pendiri NVIDIA, Jensen Huang, menekankan pentingnya kolaborasi ini, "Kemitraan kami dengan Synopsys bertujuan untuk mendefinisikan ulang teknik dan desain dengan memanfaatkan kekuatan komputasi terakselerasi dan AI dari NVIDIA. Kami berencana memberdayakan para insinyur untuk menciptakan produk luar biasa yang akan membentuk masa depan."

Kerja sama ini adalah kelanjutan dari kemitraan strategis yang telah lama terjalin. Fokus utamanya adalah menggabungkan perangkat lunak desain Synopsys dengan teknologi CUDA-X dan platform simulasi AI milik NVIDIA agar proses desain berjalan lebih cepat dan efisien.

Kedua perusahaan berencana mengintegrasikan mesin desain berbasis AI milik Synopsys dengan tumpukan teknologi AI NVIDIA untuk mengotomatisasi proses desain dan verifikasi semikonduktor.

Selain itu, mereka akan bersama-sama mengembangkan lingkungan pengujian virtual berbasis teknologi kembaran digital (digital twin). Solusi ini memiliki potensi aplikasi yang luas, tidak hanya di sektor semikonduktor, tetapi juga di industri otomotif, kedirgantaraan, dan lainnya.

Teknologi yang dikembangkan bersama ini akan tersedia melalui platform cloud, memastikan akses yang mudah bagi pelanggan dari berbagai skala.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025