Bearded vulture, hering berjanggut pemakan tulang yang unik di pegunungan dunia

Gambar
PR JATENG -  Di antara deretan burung pemangsa di dunia, Bearded Vulture atau Hering berjanggut menjadi salah satu yang paling unik. Burung besar ini justru dikenal lebih menyukai tulang dibandingkan daging segar, sebuah kebiasaan yang jarang dimiliki satwa lain. Penampakan Bearded Vulture kerap mencuri perhatian. Tubuh bagian atasnya didominasi warna gelap, sementara dada hingga kepala berwarna lebih terang. Ciri khas lainnya adalah jumbai bulu menyerupai janggut di bawah paruh, yang membuatnya tampak gagah sekaligus eksotis. Burung ini hidup di kawasan pegunungan Eropa, Asia, hingga Afrika. Dengan bentang sayap yang bisa mencapai hampir tiga meter, Bearded Vulture mampu melayang lama mengikuti arus udara di wilayah pegunungan terjal. Dalam unggahan video akun Facebook Porco Project, diperlihatkan bagaimana burung ini beraktivitas di alam liar. “Bearded Vulture adalah burung yang lebih suka memakan tulang daripada daging,” tulis Porco Project dalam keterangan videonya. Ber...

Potensi risiko dan interaksi obat herbal pada sistem tubuh anak

Potensi risiko dan interaksi obat herbal pada sistem tubuh anak

bundayuniblog.blogspot.com - Ketika memilih pengobatan herbal untuk anak, asumsi bahwa "alami berarti aman" bisa menyesatkan. Walaupun sebagian besar herbal berasal dari alam, senyawa aktif yang dikandungnya adalah zat kimia yang dapat memengaruhi metabolisme, fungsi organ, dan efektivitas obat lain dalam tubuh yang sedang berkembang.

Memahami potensi risiko dan interaksi adalah kunci untuk membuat keputusan kesehatan yang benar-benar bijaksana dan melindungi anak dari bahaya yang tidak terduga.

Risiko penggunaan herbal pada anak berakar pada perbedaan fisiologis yang signifikan dibandingkan orang dewasa:

Kematangan Organ (Farmakokinetik)

Hati (Metabolisme): Hati anak, terutama bayi dan balita, memiliki enzim metabolisme (terutama Cytochrome P450) yang belum sepenuhnya berkembang. Herbal, seperti halnya obat, dimetabolisme oleh enzim ini. Jika enzim lambat bekerja, senyawa herbal dapat menumpuk dalam darah, meningkatkan risiko toksisitas.

Ginjal (Ekskresi): Fungsi ginjal anak untuk menyaring dan mengeluarkan produk sampingan obat atau herbal juga belum optimal. Penumpukan racun dalam tubuh anak terjadi lebih cepat.

Rasio Permukaan Tubuh terhadap Berat Badan

Anak memiliki rasio permukaan tubuh terhadap berat badan yang lebih besar. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap zat-zat yang diserap melalui kulit (topikal) atau sistem pencernaan.

Interaksi antara herbal dan obat resep adalah salah satu bahaya terbesar yang sering diabaikan.

Mempengaruhi Enzim Hati (P450)

Banyak herbal kuat (misalnya, St. John’s Wort atau Bawang Putih) memiliki kemampuan untuk menginduksi (mempercepat kerja) atau menghambat (memperlambat kerja) enzim P450 di hati.

Jika Diinduksi (Enzim Dipercepat): Obat resep yang diberikan kepada anak akan dimetabolisme terlalu cepat. Akibatnya, konsentrasi obat dalam darah menjadi terlalu rendah, dan obat resep tersebut menjadi tidak efektif. Contoh: Obat kejang atau antibiotik.

Jika Dihambat (Enzim Diperlambat): Obat resep dimetabolisme terlalu lambat. Konsentrasi obat dalam darah menjadi terlalu tinggi (overdosis), meningkatkan risiko toksisitas. Contoh: Obat penurun panas atau antidepresan tertentu.

Efek Aditif (Penggandaan Risiko)

Beberapa herbal memiliki efek yang serupa dengan obat resep, yang jika dikonsumsi bersamaan dapat melipatgandakan risiko.

Contoh: Memberikan herbal penenang (Valerian, Kava) bersamaan dengan obat alergi (antihistamin sedatif) dapat meningkatkan risiko kantuk berlebihan hingga depresi pernapasan.

Contoh: Herbal yang bersifat pengencer darah (Ginkgo Biloba) dapat meningkatkan risiko perdarahan jika diberikan bersamaan dengan obat anti-inflamasi (NSAID) atau antikoagulan.

Selain interaksi, kualitas produk herbal itu sendiri menimbulkan risiko:

Kontaminasi Bahan Berbahaya

Pestisida dan Logam Berat: Herbal yang ditanam di lingkungan yang buruk atau tidak diuji dapat terkontaminasi oleh logam berat (Timbal, Kadmium) atau pestisida. Zat ini sangat berbahaya bagi perkembangan neurologis anak.

Adulterasi: Beberapa produk herbal palsu atau yang tidak teregulasi dicampur (diadulterasi) secara diam-diam dengan obat resep untuk memberikan "efek cepat." Contoh: Herbal pereda nyeri yang dicampur dengan steroid atau obat penahan nyeri kimia.

Toksisitas Langsung

Beberapa herbal secara inheren beracun bagi anak dalam dosis berapa pun. Contoh yang harus dihindari mutlak adalah Ephedra (risiko jantung dan tekanan darah) dan Comfrey (risiko kerusakan hati).

Selalu Konsultasi: Jangan pernah memberikan herbal atau suplemen tanpa persetujuan Dokter Anak. Sampaikan jenis, merek, dan dosis herbal yang ingin Anda berikan.

Cari Data Uji Klinis: Utamakan herbal yang telah direkomendasikan dan diuji secara klinis pada kelompok usia anak (misalnya, beberapa formulasi ekstrak pelargonium untuk batuk).

Pilih Produk Terstandar: Pilih merek yang jelas memiliki sertifikasi BPOM dan diuji secara internal untuk memastikan bebas dari logam berat dan kontaminasi obat lain.

Hanya Gunakan Herbal yang Jelas Tujuannya: Jangan gunakan "ramuan peningkat imun umum" tanpa mengetahui secara pasti kandungan dan dosisnya.

Pesan Kunci: Ketika menyangkut anak, margin kesalahan dalam pengobatan sangat kecil. Kehati-hatian yang berlebihan adalah tindakan terbaik. Herbal adalah zat kimia aktif, dan sistem tubuh anak belum memiliki pertahanan yang matang untuk mengelolanya tanpa risiko.***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025