Bearded vulture, hering berjanggut pemakan tulang yang unik di pegunungan dunia

Gambar
PR JATENG -  Di antara deretan burung pemangsa di dunia, Bearded Vulture atau Hering berjanggut menjadi salah satu yang paling unik. Burung besar ini justru dikenal lebih menyukai tulang dibandingkan daging segar, sebuah kebiasaan yang jarang dimiliki satwa lain. Penampakan Bearded Vulture kerap mencuri perhatian. Tubuh bagian atasnya didominasi warna gelap, sementara dada hingga kepala berwarna lebih terang. Ciri khas lainnya adalah jumbai bulu menyerupai janggut di bawah paruh, yang membuatnya tampak gagah sekaligus eksotis. Burung ini hidup di kawasan pegunungan Eropa, Asia, hingga Afrika. Dengan bentang sayap yang bisa mencapai hampir tiga meter, Bearded Vulture mampu melayang lama mengikuti arus udara di wilayah pegunungan terjal. Dalam unggahan video akun Facebook Porco Project, diperlihatkan bagaimana burung ini beraktivitas di alam liar. “Bearded Vulture adalah burung yang lebih suka memakan tulang daripada daging,” tulis Porco Project dalam keterangan videonya. Ber...

Studi dampak banjir berkepanjangan: Layanan RS meningkat selama 7 bulan ke depan

Studi dampak banjir berkepanjangan: Layanan RS meningkat selama 7 bulan ke depan
Ringkasan Berita:
  • Banjir surut, tapi beban rumah sakit tetap melonjak hingga berbulan-bulan setelah bencana.
  • Studi internasional ungkap risiko kesehatan pasca banjir, 10 penyakit dominan jadi sorotan.
  • Suara tim medis dan warga Sumatera tunjukkan beban ganda layanan kesehatan di lapangan.

bundayuniblog.blogspot.com, JAKARTA – Banjir boleh surut, tapi beban rumah sakit tetap mengalir hingga berbulan-bulan.

Sebuah studi internasional berjudul “Hospitalization risks associated with floods in a multi-country study” menemukan bahwa peningkatan kasus di rumah sakit bisa berlangsung sampai 210 hari atau sekitar 7 bulan setelah banjir.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai tingginya beban rumah sakit pasca bencana disebabkan keterbatasan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan dukungan finansial.

“Rumah sakit tidak hanya menangani penyakit yang berhubungan dengan banjir, tetapi juga penyakit lain yang biasa terjadi di masyarakat sehari-hari. Jadi seperti beban ganda,” kata Prof Tjandra di Jakarta, Sabtu (14/12/2025).

Penyakit Dominan Pasca Banjir

Studi dan pengalaman lapangan menunjukkan 10 penyakit dominan pasca banjir:

  • Penyakit kardiovaskular
  • Penyakit paru dan pernapasan
  • Penyakit infeksi
  • Penyakit saluran cerna
  • Gangguan mental
  • Diabetes
  • Cedera
  • Kanker
  • Gangguan sistem saraf
  • Penyakit ginjal

Selain itu, faktor cuaca, tingkat keparahan banjir, kepadatan penduduk, pola umur korban, dan status sosial ekonomi turut memperberat beban layanan rumah sakit.

Dampak Banjir Sumatera

Data Kemenkes per 4 Desember 2025 mencatat:

  • Aceh: 13 rumah sakit dan 122 puskesmas terdampak banjir.
  • Sumatera Utara: 18 rumah sakit dan 25 puskesmas terdampak.
  • Sumatera Barat: 9 puskesmas terdampak.

Di Puskesmas Koto Alam, Agam, Sumatera Barat, suasana digambarkan mencekam: warga berlumuran lumpur datang dengan luka parah di kepala, dagu, bahkan patah tulang.

Ada pula korban meninggal yang dibawa ke lorong puskesmas.

Tenaga kesehatan TNI AL di kapal KRI juga melayani pengungsi banjir dengan keluhan diare, ISPA, leptospirosis, dan penyakit kulit.

Di lapangan, tenaga medis di RSUD Tamiang Aceh mengaku masih kewalahan. 

Tim medis RSUP Haji Adam Malik (Medan, Sumatera Utara) melaporkan keluhan warga yang dominan: diare, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), gangguan pencernaan, dan penyakit kulit.

Mereka juga membantu membersihkan RSUD Aceh Tamiang yang lumpurnya menimbun peralatan medis dan tempat tidur pasien.

Krisis SDM dan Logistik

Prof Tjandra menekankan pentingnya manajemen SDM dan logistik kesehatan di daerah bencana.

Tim manajemen krisis kesehatan di lapangan harus mengatur sumber daya yang tersedia dari berbagai pihak agar layanan tetap berjalan.

“Tentang ketersediaan tenaga kesehatan di daerah bencana. Pada dasarnya adalah manajemen SDM dan juga manajemen logistik kesehatan yang perlu diatur secara rapi. Tim manajemen krisis kesehatan di lapangan yang menangani pengaturannya di lokasi mengatur berbagai sumber daya yang pasti sudah ada di lapangan dari berbagai sumber,” tutur Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ini.

Beban RS Berlanjut

Banjir dan dampaknya pada layanan kesehatan menunjukkan bahwa pemulihan tidak berhenti saat air surut.

Beban rumah sakit bisa bertahan berbulan-bulan, menuntut kesiapan SDM, logistik, dan dukungan finansial yang berkelanjutan.

Suara tim medis dan warga di Sumatera menegaskan bahwa krisis kesehatan pasca banjir adalah kenyataan yang harus dihadapi bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putusan Pengadilan Nomor 1707 K/PID.SUS/2016 tentang Kasus Farmasi YONGKY SALIM

Petani Suka Makmur Bentuk Koperasi Tani Jaya untuk Kemakmuran Bersama

Jadwal KM Kelud Jakarta-Medan, Berangkat 17 Oktober 2025